“Tea’moko punna natoa-toai jako sallang, tenapa lagi nu’ bunting nana pakammako antu. Apalagi punna lebba’mako”. Ucap Ibuku kepada aku yang sedang makan malam dengan sedikit lahap. Sop saudara, ikan cakalang besar, tahu goreng dan sayur rebung di depan mataku, aku sikat. Masakan ibuku memang mantap! Maklumlah dibuat dengan cinta, ditambah sop hangat yang baru dibeli oleh ayahnya Ulya, ponakanku. Pas untuk hujan-hujan seperti ini. Makanan apa sih yang tidak habis olehku? Lagi pula hanya terhitung satu dua menu yang masuk black listku, selain itu semua bisa habis!. Tidak peduli lagi ada masalah atau tidak, semua di depan mata aku sikat. Tidak heran aku naik 9 kilo, sekarang mungkin lebih. Katanya kalau kurus, dosen itu tidak berwibawa kata Lala – perempuan yang dua hari lalu masih menjadi pacarku.
Wajarlah orang tua ingin melihat anaknya bahagia pikirku dalam hati. Sesaat sebelumnya, aku memang bilang ke ibu yang sedang ekspresif menonton sinetron. Ia perempuan sederhana 57 tahun penggemar sinetron, setiap malam ialah penguasa remote tivi, ia yang selalu tidak rela kalau Bintang & Kejora di sakiti oleh ibu tirinya. Ia pasti akan berteriak histeris melihat adegan dramatis yang membahayakan nyawa bintang kesukaannya itu. Kadang bilang ”Jahat sekali ini ibu tiri” ia begitu larut dalam emosi seolah apa yang ia lihat di depan kotak kaca itu merupakan bagian dari dirinya. Kalau sudah begitu saya nyeletuk ” Penonton jangan emosi bu” atau malah ikut menimpal dan ngeledekin ibu ”Iya, memang itu tawwa jahat sekali, nda bisa begitu dong” walaupun saya tidak tahu dan memang tidak mau tahu jalan ceritanya.Oya, saya lupa memberi tahu kalau tivi berada di ruang makan, jadi kadang sambil makan, saya memanfatkan waktu ini untuk curhat atau sekadar bercerita ringan, bersenda gurau dengan ibuku.
”Ma’, tenamo ku siagang Lala”, begitu imbuhku sambil juga mulai mengambil sendok dan piring. ”Angngapa nakkulle, na apai ko kah?”, ”Tenaja”, aku pikir cukup ibu tahu saja, tak perlu ku ceritakan semua. ”Jari, antekamma punna katte Ma’, nakke battu rikatteji”. Maka meluncurlah kata-kata ibuku ini
”Tea tommako sangnging a’lampa ri balla’na. Kamma tong tena tau maraeng ri linoa. Abboya mako anjo baine baji’-bajika, tamparaka ri tau maraeng, teai kana ia tonji nakana kalenna tau, natena napattaui tawwa. Abboyako anjo bajika ri toa toanu, keluarganu, tena na baji’ ri kau tonji” Menurutku, jarang-jarang ibu berkata padaku seserius ini, mungkin sudah setahun ini ia melihat anak laki-lakinya ini ”berubah”. Mungkin ia cuma mau melihat ”tau rungkana” ini seperti dulu, yang selalu optimis, dewasa, pembawa ceria di rumah, good boy dan selalu menjadi penyejuk hatinya. Entahlah, mungkin ia berpikir sekarang sebagian sifat itu sudah terkikis hilang dari diriku.
”Iye’ Ma’, tenamo, tenamo” sambil menyiapkan remah-remah dan tulang ikan sisa makananku untuk dua ekor kucing keluarga kami yang always stand by di luar rumah. Saya juga sudah berketetapan hati untuk mencari yang lebih baik. Saya juga berhak untuk bahagia. Saya ini laki-laki Makassar yang musti punya sikap. Tidak ada yang bisa menyakitiku tanpa izin dari diriku sendiri. Enough is enough!
Aku bersiap-siap, ganti baju. ”Aku mau keluar dulu, mau membeli sesuatu”. Di atas motor yang siap-siap kukeluarkan di samping rumah, kulihat ibuku berdiri di depan wastafel sedang bersih-bersih. Perempuan hebat luar biasa setengah abad, yang sudah semakin rapuh dimakan usia, dalam kesederhanaannya, bagiku ia tampak selalu bahagia dan bersyukur. Memandang wajahnya yang innocent, membuatku terdiam untuk beberapa detik lamanya di atas motor. Aku terharu dan bangga, ”Akulah anak yang paling bahagia punya ibu seperti kamu Ma’. Aku janji akan selalu membahagiakan kau. Aku tidak akan berlama-lama memberimu cucu lucu, yang akan membuatmu selalu senang dan tertawa. Insya Allah, tahun ini anak lelakimu ini akan menikah. Tentu saja menikah dengan perempuan seperti yang kau pesankan kepadaku, yang berhati baik, menjaga kehormatan dan kesuciannya, seteduh memandang wajahnya, setenang jauh dekat darinya, yang tidak hanya menyayangiku, tapi juga yang sepenuh hatinya ramah dan mencintaimu dan keluargaku, yang memanusiakan dirinya dan memuliakan orang lain”. Sesaat setelah kukeluarkan motorku, aku bilang ”Ma’ tolong tutup pintu”, sambil menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca.
(Mengenang Almarhum Tetta yang genap hari ini berulang tahun ke 68: Allahumma Rabbana waghfirlahum waghfuanhum)
Catatan :
| Tea’moko punna natoa-toai jako sallang, tenapa lagi nu’ bunting nana pakammako antu. Apalagi punna lebba’mako | Sudahlah nak, nanti dia tidak menghormatimu (menghargaimu) ji. Belum lagi kau menikah sudah dia perlakukan seperti itu. Apalagi kalau sudah menikah nanti. |
|
Ma’, tenamo ku siagang Lala |
Ma’, saya sudah tidak bersama Lala |
| Angngapa nakkulle, na apai ko kah? |
Kenapa bisa, dia apakan ko kah? |
|
Tenaja |
Tidakji |
| Jari, antekamma punna katte Ma’, nakke battu rikatteji |
Jadi, bagaimana menurut kita’ Ma’. Saya ikut apa kata kita’ |
| Tea tommako sangnging a’lampa ri balla’na. Kamma tong tena tau maraeng ri linoa. Abboya mako anjo baine baji’-bajika, tamparaka ri tau maraeng, teai kana ia tonji nakana kalenna tau, natena napattaui tawwa. Abboyako anjo bajika ri toa toanu, keluarganu, tena na baji’ ri kau tonji |
Janganmi selalu ke rumahnya. Kayak tidak ada saja perempuan lain di dunia ini. Carilah perempuan yang baik hati, ramah pada semua orang, bukan hanya dirinya saja yang dia bilang manusia, orang lain dia tidak anggap. Carilah yang baik pada orang tuamu, keluargamu, bukan hanya baik pada kamu saja. |
|
Iye’ Ma’, tenamo, tenamo |
Iya Ma’, Tidak lagi, tidak lagi |
Posted by Daeng Toto