Pesan Ibu

January 10, 2010

Tea’moko punna natoa-toai jako sallang, tenapa lagi nu’ bunting nana pakammako antu. Apalagi punna lebba’mako”. Ucap Ibuku kepada aku yang sedang makan malam dengan sedikit lahap. Sop saudara, ikan cakalang besar, tahu goreng dan sayur rebung di depan mataku, aku sikat. Masakan ibuku memang mantap! Maklumlah dibuat dengan cinta, ditambah sop hangat yang baru dibeli oleh ayahnya Ulya, ponakanku. Pas untuk hujan-hujan seperti ini. Makanan apa sih yang tidak habis olehku? Lagi pula hanya terhitung satu dua menu yang masuk black listku, selain itu semua bisa habis!. Tidak peduli lagi ada masalah atau tidak, semua di depan mata aku sikat. Tidak heran aku naik 9 kilo, sekarang mungkin lebih. Katanya kalau kurus, dosen itu tidak berwibawa kata Lala – perempuan yang dua hari lalu masih menjadi pacarku.

Wajarlah orang tua ingin melihat anaknya bahagia pikirku dalam hati. Sesaat sebelumnya, aku memang bilang ke ibu yang sedang ekspresif menonton sinetron. Ia perempuan sederhana 57 tahun penggemar sinetron, setiap malam ialah penguasa remote tivi, ia yang selalu tidak rela kalau Bintang & Kejora di sakiti oleh ibu tirinya. Ia pasti akan berteriak histeris melihat adegan dramatis yang membahayakan nyawa bintang kesukaannya itu. Kadang bilang ”Jahat sekali ini ibu tiri” ia begitu larut dalam emosi seolah apa yang ia lihat di depan kotak kaca itu merupakan bagian dari dirinya. Kalau sudah begitu saya nyeletuk ” Penonton jangan emosi bu” atau malah ikut menimpal dan ngeledekin ibu ”Iya, memang itu tawwa jahat sekali, nda bisa begitu dong” walaupun saya tidak tahu dan memang tidak mau tahu jalan ceritanya.Oya, saya lupa memberi tahu kalau tivi berada di ruang makan, jadi kadang sambil makan, saya memanfatkan waktu ini untuk curhat atau sekadar bercerita ringan, bersenda gurau dengan ibuku.

Ma’, tenamo ku siagang Lala”, begitu imbuhku sambil juga mulai mengambil sendok dan piring. ”Angngapa nakkulle, na apai ko kah?”, ”Tenaja”, aku pikir cukup ibu tahu saja, tak perlu ku ceritakan semua. ”Jari, antekamma punna katte Ma’, nakke battu rikatteji”. Maka meluncurlah kata-kata ibuku ini

Tea tommako sangnging a’lampa ri balla’na. Kamma tong tena tau maraeng ri linoa. Abboya mako anjo baine baji’-bajika, tamparaka ri tau maraeng, teai kana ia tonji nakana kalenna tau, natena napattaui tawwa. Abboyako anjo bajika ri toa toanu, keluarganu, tena na baji’ ri kau tonji” Menurutku, jarang-jarang ibu berkata padaku seserius ini, mungkin sudah setahun ini ia melihat anak laki-lakinya ini ”berubah”. Mungkin ia cuma mau melihat ”tau rungkana” ini seperti dulu, yang selalu optimis, dewasa, pembawa ceria di rumah, good boy dan selalu menjadi penyejuk hatinya. Entahlah, mungkin ia berpikir sekarang sebagian sifat itu sudah terkikis hilang dari diriku.

Iye’ Ma’, tenamo, tenamo” sambil menyiapkan remah-remah dan tulang ikan sisa makananku untuk dua ekor kucing keluarga kami yang always stand by di luar rumah. Saya juga sudah berketetapan hati untuk mencari yang lebih baik. Saya juga berhak untuk bahagia. Saya ini laki-laki Makassar yang musti punya sikap. Tidak ada yang bisa menyakitiku tanpa izin dari diriku sendiri. Enough is enough!

Aku bersiap-siap, ganti baju. ”Aku mau keluar dulu, mau membeli sesuatu”. Di atas motor yang siap-siap kukeluarkan di samping rumah, kulihat ibuku berdiri di depan wastafel sedang bersih-bersih. Perempuan hebat luar biasa setengah abad, yang sudah semakin rapuh dimakan usia, dalam kesederhanaannya, bagiku ia tampak selalu bahagia dan bersyukur. Memandang wajahnya yang innocent, membuatku terdiam untuk beberapa detik lamanya di atas motor. Aku terharu dan bangga, ”Akulah anak yang paling bahagia punya ibu seperti kamu Ma’. Aku janji akan selalu membahagiakan kau. Aku tidak akan berlama-lama memberimu cucu lucu, yang akan membuatmu selalu senang dan tertawa. Insya Allah, tahun ini anak lelakimu ini akan menikah. Tentu saja menikah dengan perempuan seperti yang kau pesankan kepadaku, yang berhati baik, menjaga kehormatan dan kesuciannya, seteduh memandang wajahnya, setenang jauh dekat darinya, yang tidak hanya menyayangiku, tapi juga yang sepenuh hatinya ramah dan mencintaimu dan keluargaku, yang memanusiakan dirinya dan memuliakan orang lain”. Sesaat setelah kukeluarkan motorku, aku bilang ”Ma’ tolong tutup pintu”, sambil menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca.

(Mengenang Almarhum Tetta yang genap hari ini berulang tahun ke 68: Allahumma Rabbana waghfirlahum waghfuanhum)

Catatan :

Tea’moko punna natoa-toai jako sallang, tenapa lagi nu’ bunting nana pakammako antu. Apalagi punna lebba’mako Sudahlah nak, nanti dia tidak menghormatimu (menghargaimu) ji. Belum lagi kau menikah sudah dia perlakukan seperti itu. Apalagi kalau sudah menikah nanti.

Ma’, tenamo ku siagang Lala

Ma’, saya sudah tidak bersama Lala
Angngapa nakkulle, na apai ko kah?

Kenapa bisa, dia apakan ko kah?

Tenaja

Tidakji

Jari, antekamma punna katte Ma’, nakke battu rikatteji

Jadi, bagaimana menurut kita’ Ma’. Saya ikut apa kata kita’

Tea tommako sangnging a’lampa ri balla’na. Kamma tong tena tau maraeng ri linoa. Abboya mako anjo baine baji’-bajika, tamparaka ri tau maraeng, teai kana ia tonji nakana kalenna tau, natena napattaui tawwa. Abboyako anjo bajika ri toa toanu, keluarganu, tena na baji’ ri kau tonji

Janganmi selalu ke rumahnya. Kayak tidak ada saja perempuan lain di dunia ini. Carilah perempuan yang baik hati, ramah pada semua orang, bukan hanya dirinya saja yang dia bilang manusia, orang lain dia tidak anggap. Carilah yang baik pada orang tuamu, keluargamu, bukan hanya baik pada kamu saja.

Iye’ Ma’, tenamo, tenamo

Iya Ma’, Tidak lagi, tidak lagi


Metafisika Air Mata

January 8, 2010

Cinta

Air mata

Menjadi

Batu


Practicing 7 Habits

December 15, 2009

First Week :

Be Pro Active

1. View your ‘Missions’ and ‘Roles’

2. Choose your ‘Big Rocks’

3. Make your ‘Schedule’ this week

See you next week!


Belum ada judul

October 26, 2009

Kadang aku bingung dengan wanita

kenapa selalu menyalahkan orang lain

untuk kesalahan yang kau buat sendiri?

Kau menyinggung soal-soal lalu

yang katanya tidak ada apa-apa lagi

Aku bertanya tentang ucapan yang kau tulis spesial buatnya

bulan lalu, kau lalu memutuskan pembicaraan telp,

kau malu, tidak mau itu di bahas,

jadi, bagimu, aku ini orang kedua di hatimu?

Aku bertanya, dan kau marah

Bukannya harusnya aku yang ngambek ?

Jika begitu, bukannya harusnya aku yang marah?

Haruskah aku yang disalahkan untuk sebuah pertanyaan

yang kau sendiri tidak rela dan malu untuk menjelaskannya??

Ah, aku tidak mengerti..


Balada Orang Pilihan

October 18, 2009

Nasib tidak selalu berpihak pada kita

sekalipun kau orang pilihan

Kadang apa yang ada dalam genggaman

terlepas, jatuh, hilang atau terbang

Tidak peduli apakah kau calon presiden masa depan

atau anak pejabat teras di Binjai sana yg punya banyak uang dan kuasa,

atau anak Tengku siapa yg katanya keturunan Bugis

ataukah cucu Sultah Hasanuddin, cucu karaeng Galesong

atau cucu Syekh Yusuf yang berkuasa, dihormati dan alim itu,

Balada ya balada, ia menimpa siapa saja

***

Inilah baladaku,

Seperti hari ini

Lala, fiancee ku, rela kulepas, ikhlas kubiarkan tinggalkanku

Ia tidak tahan denganku katanya

yang senang bertanya hal-hal yang tidak ia suka,

padahal saya butuh kejelasan juga soal past thing calon istriku

Dia sudah bosan menjawab katanya

padahal reaksi berlebihannya yang kadang menunjukkan hal

yang berserangan dari apa yang dikatakannya, selalu membuatku

ragu, tidak yakin akan kebenaran kata-kata yg ia sebut kebenaran.

***

Alis bengkoknya seperti pak Raden kalo sedang marah

Caranya bicara padaku siang ini,

Kata-kata dan gesture yang ditampakkannya

membuatku berpikir, Sepertinya ini bukan sifat istri yang menenangkan

I can’t stand anymore, I can’t stand anymore..

Just let she go, pikirku..

Ya, kita putus saja

Semoga Kau dapat yang lebih baik dari saya

Ingatlah hari ini,

Ingatlah hari ini, Lala

Hari dimana kita terakhir bertemu

***


Suatu malam di jalan Sudirman

October 17, 2009

Pentingkah lelaki menangis? aku bertanya

Kenapa? kerna suatu malam aku lihat

Ada lelaki bermotor menangis

Ia tutup helm full facenya, agar tidak ada yg terganggu

oleh mimik sedihnya

Balap, kencang, kencang derunya

Di bawah pancuran terang lampu jalan

di desing  lalang kendaraan

Entah apa yang ditangisinya

Apakah penting yang ditangisinya itu?

Entah, mungkin ia merasa kehilangan kekasihnya

atau hatinya disakiti barangkali

Is it worth?, is it worth?

Apa ada yang perduli?

Tidak


Ziarah Lakiung

September 1, 2008

Tiga mobil beriringan teratur, malam itu menuju suatu tempat peristirahatan. Ini bukan perjalanan ke sebuah hotel, wisma atau rumah. Kami malam itu mau bertamu, berkunjung tepatnya ke sebuah tempat orang suci dari Makassar. Ya!, siapa lagi kalau bukan Makam Syeikh Yusuf Al Makassary. Tulisan ini ingin melengkapi cerita saya sebelumnya tentang ziarah Katangka dan Tamalate. Katakanlah ini semacam penutup dari sebuah trilogi ziarah.

Pukul 22.30 kami tiba, hanya butuh 15 menit perjalanan dari titik start kami di baji bicara. Sesampai di depan kompleks makam yang dikenal dengan ‘kobbanga’ ini. Ada makam berkubah utama yang merupakan makam Syekh, keluarga dan pengikutnya. Selain itu ada beberapa makam berkubah lagi yang relatif lebih kecil yang pasti merupakan makam keturunan beliau. Salah satunya ada makam berkubah yang sepertinya jarang dikunjungi.Dari informasi ibu saya yang sejak kecil juga sering dibawa oleh ibunya (Dato’ saya, almh) berziarah ke makam-makam kakek nenek moyang di Gowa, Galesong, Tallo, Benteng Rotterdam dan Somba Opu, makam itu adalah milik ana’ akhera’na tuanta yang menurut sejarah merupakan anak kesayangan sang Syekh yang khusnul khatimah dan tidak wafat-wafat kecuali dibacakan Ayat Kursi setelah 40 kali.

Sekali ini tidak nampak riuh rendah anak-anak peminta-minta atau anak muda penjual minyak harum. Sejak kurang lebih 20 tahun lalu sejak saya pertama kali di ajak ke tempat ini, apakah itu oleh ibu, dato’, tante, atau saya sendiri- hibaan anak-anak pengemis dari dulu sampai masa kini masih tetap sama “Doe’ta rolong puang, ajji, barang naik lalo jaki ri makka……..”.Mereka masih juga cenderung mengejar tidak menyerah pulang sebelum diberi uang receh. Satu-satunya perbedaan adalah, sekarang mereka harus berlari lebih gesit karena yang dikejar tidak lagi pejalan kaki atau naik becak melainkan harus-lincah mengejar pengendara motor dan mobil. Tapi, malam ini lain, hanya ada gelap dan sunyi Mungkin anak-anak itu sudah terlelap tidur di rumah mereka masing-masing mempersiapkan energi baru untuk mengemis esok hari.

Ziarah kali ini sedikit istimewa dengan kehadiran seorang kiai dari Jawa. Beliau sudah tiga hari sebelumnya tiba di Makassar memenuhi undangan Guru kami yang merupakan sahabatnya dalam rangka milad Jam’iyah dan  haul guru kami Allah Yarham KHS Jamaluddin Assegaf. Orangnya tinggi besar cenderung gemuk, kulit putih, suka humor, optimistik, peramah dan Hafal 30 juz Al Qur’an. Dari rumahnya di Depok, ia berangkat sendiri naik pesawat ke Makassar. Sepintas tidak ada yang istimewa dari deskripsi saya, tentangnya kecuali kenyataan bahwa pak kiai haji ini seorang buta. Jangan salah, kata syekh memang ‘beliau tidak melihat yang lahir, tapi penglihatan batinnya tembus-tembuski, bisa-bisa dia tahu semua rahasiamu”

“Assalamu ‘alaikum” ucap pak kiai, dituntun Syekh A. Rahim Assegaf Puang Makka merupakan dua orang pertama dari sekitar 15 orang rombongan melewati pintu masuk makam syekh yusuf yang di atasnya bertuliskan tahun-tahun penting kehidupan sang ulama dan pejuang besar ini. Ruang berkubah ini cukup luas, bercat putih dengan wangi bunga dan minyak peziarah seharian. Dalam makam berkubah ini ada delapan makam dalam dua baris. Baris utama makam Syekh Yusuf. Di sebelah kanannya ada makam Sitti Daeng Nisanga, istri Sang Syekh yang sekaligus juga bibi Sultan Hasanuddin, di sebelah kiri adalah makam Sultan Abdul Jalil Raja Gowa XIX, yang merupakan putra Sultan Hasanuddin. Sultan yang bernama kecil I Mappadulung Daeng Mattimung ini merupakan raja Gowa yang berjasa besar pada masanya mengembalikan jasad Syekh Yusuf dan keluarganya yang masih hidup dari Cape Town, Afrika Selatan ke tanah Gowa. Disebelah makam beliau adalah makam Syekh Abd. Dharir Tuang Rappang yang merupakan murid pertama Syekh Yusuf yang menyebarkan ajaran Khalwatiah di Sulawesi Selatan. Bagi pak kiai sepertinya bukan semacam coincidence kalau salah satu makam yang diziarahinya adalah makam orang buta yang alim seperti dirinya.

Jika tuan dan puan berkenan, saya akan bercerita ringkas tentang Al Haj Syekh Sayyid Yusuf Taj al Khalwaty al Makassary Tuanta Salamaka ri Gowa, pahlawan nasional di Afrika Selatan dan Indonesia . Nama kecilnya Muhammad Yusuf, lahir di istana Tallo Parangloe, 8 Syawal 1036 H yang bertepatan 3 Juli 1626 M. Dari ayah yang bernama Abdullah Khaidir Tuanta Manjalawi dan Ibu Sitti Aminah, I Tubiani Daeng Kunjung yang masih saudara sepupu raja Gowa Sultan Alauddin. St. Aminah anak dari pasangan Ahmad Daeng Leo’ Daengta Gallarrang Moncong Loe dengan Sangalow (berdarah portugis) Kerana Daeng Singara. Ahmad Dg Leo pernah ikut dalam salah satu ekspedisi hingga ke daerah Australia, singgah dan menikah (mungkin di daerah Timor dengan seorang putri cantik putih asli Portugis. Itulah mengapa St Aminah terkenal dengan kecantikan dan wajahnya yang bertampang indo).

Yusuf kecil di asuh dan beranjak besar di lingkungan istana, belajar Islam dan kesatriaan seperti anak-anak bangsawan Gowa lainnya. Akan tetapi sejak kecil dalam diri Syekh Yusuf sudah tampak kecenderungan dan minat yang besar pada Islam, sehingga ia belajar lebih jauh tentang Islam pada Ulama besar Sayyid Jamaluddin Al Aidid di Cikoang dan Sayyid Ba’ Alawi Assaqqaf di Bontoala dan beberapa ulama lainnya.

Umur 18 tahun berangkat ke Banten tetapi sebelumnya dinikahkan dengan Sitti Daeng Nisanga, Putri Sultan Aluddin. Tidak lama di Banten waktu itu, ia ke Aceh dan berguru pada Syeikh Nuruddin ar Raniri dan memperoleh ijazah tarekat Qadiriyah terus melanjutkan perjalanan ke Yaman, Hijaz, Syiria dan Turki. Di Yaman, ia berguru kepada Syeikh Abu Abdullah Muhammad Abd al Baqi dan Syeikh Sayyid Ali sehingga memperoleh ijazah terakat Naqsabandiyah dan Ba’alawiyyah. Beliau lalu ke Mekkah untuk menunaikan haji dan berziarah ke makam Rasulullah di Madinah. Cukup lama belajar dan menetap di Madinah, beliau menikahi putri Imam Syafi’iyah yang bernama Syarifah dan beroleh putra bernama Tuan ri Dima. Dari Syeikh Burhan al Din al Mulla bin al Syeikh Ibrahim ibn al Husain binSyihab al Din al Kurdi al kaurani al Madani beliau menerima tarekat Syattariyah. Lalu berguru kepada Imam Masjid Ibn Arabi di negeri Syam (Syiria, sekarang Damaskus), Syeikh Abu Al Barakah ayyub bin Ahmad bin Ayyub al Khalwaty al Quraisyiy dan menerima ajaran Khalwatiyah. Persahabatan dan kecintaan gurunya inilah sehingga Syekh Yusuf memperoleh gelar Hadiyatullah Taj al Khalwaty (Mahkota Kaum Khalwaty). Setelah itu ia sempat singgah di Turki dan belajar tarekat Maulawiyah.

Total keseluruhan beliau mempunyai 16 ijazah tarekat, yang berarti ia berhak mengajarkan semua ajaran yang telah diperolehnya. Dari kesemuanya, tarekat Khalwatiyahlah yang sangat meresap di kalbunya yang merupakan inti sari dari berbagai tarekat yang telah diperolehnya. Ia pun kembali bertolak ke Banten. Oleh Raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa beliau diangkat sebagai Mufti Kerajaan Banten dan dinikahkan dengan Putri sang Sultan yang bernama Syarifah Khadijah beroleh anak St. Asma, St. Habibah dan Tubagus Matoa Daengta ri Untiya. Setelah Syarifah Khadijah meninggal, ia dinikahkan lagi dengan adik almarhumah yang bernama Syarifah Khatijah beroleh putra Muhammad Abdullah (Saad) Tubagus Malolo Daengta ri Lempong. Selama hidupnya beliau menikah tujuh kali, tercatat dalam sejarah beliau juga menikahi putri Sayyid Ahmad di Semarang, juga putri dari Sultan Giri yang bernama Hafilah Johar Manikam beroleh putra Tuan Ince Daeng dan seorang istri lagi dari Ceylon (Srilanka) yang merupakan putri Raja Sarandib.Putra-putrinya inilah yang kembali ke Gowa dan beregenerasi hingga sekarang.

Di Banten, beliau begitu sangat mengancam pihak Belanda yang mengadu domba Sultan Ageng dan putranya Sultan Haji. Sultah Haji yang segera ingin mengambil posisi ayahnya termakan skenario Belanda. Syekh Yusuf yang di Banten terkenal sebagai Pangeran Yusuf, beserta pengikut dan laskar Makassar membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Singkatnya beliau adalah tokoh ulama dan pejuang yang sangat di takuti Belanda. Tidak hanya itu, di Afrika Selatan, Nelson Mandela menyebutnya sebagai Bapak Penentang Apartheid Afsel karena peranannya yang besar dalam penyebaran Islam  yang  memerdekaan manusia lepas dari perbudakan (selengkapnya baca Sang Pemberi Keselamatan dari Tanah Makassar).

Satu hal yang menarik dan perlu diambil pelajaran adalah semangat dan stamina beliau dalam menuntut ilmu yang di zaman itu belum ada beasiswa atau sponsor. Ya, Allah berikanlah kami kesempatan dan kemampuan mendapatkan ilmu yang berguna dan berkah untuk orang banyak.

Memasuki areal makam berkubah dengan penuh takzim, tanpa diperintah masing-masing kami mengambil tempat mengelilingi makam berkelambu warna emas berukuran sekitar 2,5 x 1 meter ini. Bau bunga, pandan dan minyak wangi menyelimuti ruangan bersenyawa dengan rangkaian lantunan Al Fatihah. Surah Yasiin, do’a dan dzikir khidmat hadirin yang dipimpin sang kiai. Begitu menyentuh, seakan membawa kami mengenang dan merasakan aura wajah cemerlang Syekh Yusuf menyejukkan hati kami sehingga waktu sudah menunjukkan pukul 24.00 tetapi perasaan kami tidak ingin beranjak dari tempat itu.

Sebelum meninggalkan kompleks, saya menyempatkan diri mengirim al Fatihah untuk Sultan Abdul Jalil, I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone, Raja Gowa XIX yang makamnya tepat di sebelah kiri makam Syekh Yusuf. Beliau adalah ayah dari I Makkarassang Karaeng Galesong VI yang menurunkan raja-raja di Galesong.

Rupanya di luar sudah ada beberapa orang-orang yang berharap disedekahi. Tujuan selanjutnya, Makam seorang Sayyid pejuang Islam dari Tanah Jawa, Pangeran Diponegoro. Sesampai di sana, ziarah singkat berlangsung hanya di depan kompleks makam. Maklum Pagarnya terkunci, sedang sang juru kunci tinggal di Gowa, jauh dari kompleks makam.

Wal akhir, Selepas itu kami berangkat pulang dengan perasaan tercerahkan. Tenang, adem, plong dan bersemangat, bagai HP yang lagi fulled charge. Ini menjadi penutup trilogi ziarah ini, semoga kita tetap bisa menghargai, mengambil spirit dan meneladani budi baik mereka, para wali, ulama dan pejuang Islam.

Wallahu a’lam bisshawab


Tuhan dan Manusia

August 14, 2008

Tuhan :

Ku bentuk dunia ini dari lempung yang satu dan sama

Kau bikin Iran, Ethiopia dan negeri Mongol

Dari tanah Kubuat besi, murni tanpa campuran

Kau buat pedang, anak panah dan senjata

Kau bikin kapak, untuk menebang pohon yang Kutumbuhkan

Dan membuat sangkar untuk burung yang Kuciptakan berkicau bebas

Manusia :

Kau mencipta malam, aku mencipta lampu yang meneranginya

Kau buat lempung, kubikin darinya cawan minuman

Kau bikin hutan liar, gunung dan padang rumputan

Kucipta kebun, taman, jalan-jalan dan padang gembala

Kurubah racun berbisa menjadi obat

Akulah yang mencipta cermin cemerlang dari pasir.

(Muhammad Iqbal)


Siapa kau cari?

August 7, 2008

Kudengar percakapan embun dan mawar

Embun : Aku tidak tahu siapa yang kucari, aku bahkan tidak tahu siapa diriku?

Mawar : Siapa kau cari? Mengapa cemas? Dia nyata, namun kau tersembunyi

Cari Dia dan akan kaulihat Dirimu jua.Cari Dirimu, akan kau jumpai Dia menyata.


Antara Mochtar dan Bams

August 5, 2008

Pelan-pelan aku sedikit tahu

Bahwa untuk menjadi penulis seseorang harus setidaknya punya karakter yang otentik

Yang pasti harus jadi orang yang jujur. Pertama-tama kepada diri sendiri

Barusan habis baca kisah Mochtar Pabottingi menulis memoarnya di Bukuku kakiku.

Dia bilang

Dari rumah dia dapat karakter, dari buku dia dapat cakrawala.

Tiba-tiba Ingat Tebaran Mega Takdir Alihsjahbana yang bagai elang selalu ingin terbang menembus mega

Dan Sapardi yang menulis

Pada mulanya adalah kata

Di rumah sengaja ia tak ada Koran dan tv, mungkin karena karena

Tidak mau perspektifnya diubah oleh entitas di luar dirinya.

Kita tidak bisa seperti Mochtar, Takdir, atau Sapardi. Karena masing-masing kita adalah cermin otensitisitas yang kita punya.

Di depanku Televisi baru saja menampilkan Aris Idol nyanyi. Sekarang Afgan. Suara mereka bagus.

Pasti karena mereka menyanyi dengan karakter mereka sendiri.

Tidak dengan memakai gaya penyanyi lain, contohnya

Pasya, Ian Kasela atau Sammy, apalagi Bams. Cuih..Haha.

***

2/8/08

Malam-malam pencet-pencet remote tv. Ada acara bagus, -

Final Indonesian Idol. Sudah kuduga yang menang Aris, Sang Pengamen Kereta.